September 08, 2024

,

Rihlah atau dalam bahasa الرحلة  yang berarti melakukan “Perjalanan” merupakan suatu kegiatan yang di adakan oleh almamater Fosikba (Forum Silaturahmi Keluarga Besar Al- Khairat) Menurut ketua Fosikba Achmad Rozi di adakannya Rihlah Ruhaniah memiliki tujuan utama untuk meningkatkan kualitas ke imanan dengan menyukuri ciptaan Allah selain itu kegiatan ini juga memiliki banyak manfaat yakni memperkuat rasa solidaritas, mengukuhkan ukhuwah membangun kebersamaan rasa peduli terhadap sesama anggota Fosikba.

Rihlah tahun ini yang di adakan pada hari Sabatu, 07 Sebtember 2024 yang di ikuti 43 orang yang berlangsung selama satu hari, dengan mengambil dua destinasi yaitu makam “Syekh Muhammad Mutawalli as- Sya’rawi dan Imam Ahmad al Badawy. Para anggota Fosikba sangat antusias dan menikmati rihlah ruhaniah tahun ini.




Pembacaan sura al- Fatihah oleh Jauhari Mas’ud, di lanjut dengan pembacaan yasin oleh Moh. Izzudin,Lc, serta pembacaan tahlil dan do’a Bersama oleh Moh sholeh, Lc dan Zakaria Asyrof,Lc Dipl. Selepas ziarah para rombongan juga menyempatkan menikmati pemandangan Masjid Imam Ahmad al- Badawy sambil foto Bersama.

Dengan kegiatan Rihlah ruhaniah ini, para anggota Fosikba di harapkan memberikan pencerahan spiritual dan bisa menambah semangat para anggota Fosikba terutama yang masih maba dalam menapaki jalan menuntut ilmu di mesir serta di tempat lainnya, dan menjadi para ulama yang bermanfaat untuk umat di kemudian hari.



By; Matsekun


November 23, 2023

,

November 22, 2023

,





FOSIKBA didirikan pada 11 September 2000 M. di Katameya City Cairo. Pada awalnya, FOSIKBA hanya terdiri dari mahasiswa-mahasiswa Al-Azhar alumni PP. Darul Ulum Banyuanyar, dengan kepanjangan: Forum Silaturahmi Keluarga Banyuanyar. Namun setelah beberapa lama, alumni dari PP. Mambaul Ulum Bata-bata dan PP. Al-Mujtama' datang ke Cairo untuk melanjutkan studinya di Universitas Al-Azhar, kemudian FOSIKBA dikembangkan menjadi: Forum Silaturahmi Keluarga Banyuanyar, Bata-bata dan Al-Mujtama' sampai pada awal tahun 2003 M.


Tahun demi tahun grafik peningkatan anggota FOSIKBA sangat meningkat, karena yang tertarik untuk bergabung dalam organisasi Almamater ini bukan hanya terbatas pada alumni tiga pesantren di atas, ada beberapa alumni pesantren yang secara moral dan emosional masih mempunyai hubungan dengan almamater pendiri FOSIKBA, seperti PP. Al-Khazini Buduran Sidoarjo, PP. Nurul Jadid Paiton, PP. Denanyar Jombang.


Atas inisiatif sebagian anggota FOSIKBA yang disampaikan dalam Sidang Permusyawaratan Anggota (SPA) tahun 2003, FOSIKBA disepakati untuk bersifat lebih terbuka lagi dan akronim. FOSIKBA menjadi semakin luas karena tidak terbatas pada tiga almamater saja akan tetapi menjadi organisasi almamater dibawah naungan Yayasan Al-Khairat, sehingga kepanjangan FOSIKBA menjadi: Forum Silaturahmi Keluarga Besar Al-Khairat. 


Tujuan utama organisasi ini adalah sebagai wadah Silaturahmi sekaligus sebagai wahana peningkatan kualitas studi, kreasi dan ketrampilan anggotanya.


Dinamika mahasiswa Cairo yang pluralistik serta tantangan akademis yang cukup tinggi menuntut kapabilitas yang 'lebih' dari ‘hanya’ sebagai mahasiswa, mereka juga dituntut untuk peka dan kritis terhadap berbagai fenomena sekitar. Anggota FOSIKBA sebagai bagian yang tak terpisahkan dari fenomena tersebut harus mampu berdiri tegak dan sejajar dengan berbagai kondisi serta tuntutan zaman yang ada.


FOSIKBA harus bisa berjalan seiring dinamika tersebut, membuka peluang serta memotivasi anggota menuju keberhasilan. Dengan program-program ilmiyah (seperti diskusi, kursus, penerbitan) 'ubudiyah (istighatsah bersama) dan wuddiyah (silaturrahmi bulanan), FOSIKBA senantiasa menciptakan stimulan kepada anggota untuk maju dan berkarya. 

Daftar Ketua FOSIKBA dari Tahun 2000 Hinga Sekarang

No - Nama Ketua - Masa Khidmah

1. Hadi Yasin - 2000-2001

2. Sidiq tabrani - 2001-2002

3. Imam Ghazali - 2002-2003

4. Muhlis Zuhri - 2003-2004

5. Nurul Hadi - 2004-2005

6. Muhammad Anwar - 2005-2006

7. Sholehoddin Az-Zumar & Saiful Anam - 2006-2007

8. Moh. Ibrohim - 2007-2008

9. Supriyanto At-Tirami & Amin Ja’farb - 2008-2009

10. Taufiqurrahman Fauzi & Hamzah Bizainik - 2009-2010

11. Muhsin Muiz & Ahmad Supandi - 2010-2011

12. Lukmad Fayad & Khotibul Umam - 2011-2012

13. Mustafidz Azmi & Suhardi Junaidi - 2012-2013

14. Wafi Heryanto & Maqbul Hasan - 2013-2014

15. Suhardi Junaidi & Maqbul Hasan - 2014-2015

16. Mujib Syukri Luman & Zakaria Asraf - 2015-2016

17. Zakaria Asraf & Shafiyullah An-Nady - 2016-2017

18. Fathor Rosi Ahmad Z. & Abd. Majid AQ. - 2017-2018

19. Moh Syamsul Arifin & Abd. Majid AQ. - 2018-2019

20. Abu Bakar Abdullah & Moh Fadal. - 2019-2020

21. Moh. Hidayat & Khairul Anam  - 2020-2021 

22. Muhammad Asrori As & Muhammad Alfin Mustafa Hanafi. - 2021-2022

23. Anas sonhaji & Muhammad labib alfikri. - 2022-2023

September 11, 2023

,

karya: samlan as solih 

nama pena: alan syah  





sufi di kenal  dekat dengan tuhannya, kecintaanya terhadap tuhan melebihi manusia pada umumnya , sufi sering kali begitu didambakan oleh banyak orang sehingga tidak jarang juga  komentar pedas tentang sufi, tetapi perlu di ketahui tentang hakikat sufi yang yang sebenarnya bahwa sufi adalah manusia yang pendapatnya terkadang tidak bisa rasionalkan sehingga sufi yang derajatnya melebihi manusia pada umumnya pendapatnya membuat kita terperangah sebagaimana doanya  Robiah Al-adawiyah  yang masyhur.

 

"Yaa Allah jika aku menyembahmu karena takut neraka bakarlah aku di dalamnya dan jika aku menyembahmu karena aku menginginkan surga jangan masukkan aku ke dalamnya dan jika aku menyembahmu karena engkau semata jangan palingkan wajahmu dariku" doa ini merupakan doa yang masyhur dikalangan para sufi sehingga doa ini selalu di ajarkan pada pelajar tasawuf.


Tetapi doa ini bukan sekedar doa biasa, do'a ini merupakan doa sufi kelas tinggi yang orang sufi kelas bawah tidak bisa berdoa seperti doa ini, karena ini merupakan sebuah doa yang bersumber dari hati paling dalam yang memang muncul atas dasar kedekatan dirinya dengan tuhan, dan memang semuanya akibat keinginan kuat dalam menaati tuhannya, dan do'a ini muncul karena akibat kedekatannya terhadap tuhan melebihi para sufi lainya maka para sufi kelas bawah tidak mampu untuk berdoa seperti ini karena belum sampai ke derajat Rabiah Al-adawiyah.


Apakah semua orang bisa menggunakan doa seperti itu ? semua orang berhak menggunakan doa seperti doa Rabiah Al-adawiyah, tapi apakah doa itu mampu terucap di mulut semua orang bahkan sepanjang sejarah peradaban umat islam tidak ada yang mampu untuk berdoa sepeti itu kecuali hanya Rabiaah Al-adawiyah saja yang mampu, memang doa itu selalu di jarkan pada umat islam apalagi para pelajar tasawwuf tapi orang lain tidak mampu karena doa itu besifat pribadi rabiah yang kesaharinnya memikirnya tentang cinta tuhannya.


Bahkan menurut satu cerita ketika beliau di lamar oleh sesesorang dia mengajukan pertanyaan terhadap orang yang melamarnya salah satu pertnyaanya tentang cinta tuhannya yang nantinya akan mengurangi terhadap kecintaanya apabila dia masih mencintai selain tuhan. Maka beliau menolak terhadap lamaran itu.


Ada beberapa banyak orang yang melamar rabiah namun pada akhirnya menemukan penolakan, orang yang melamarnya bukan orang sembarang tetapi juga ulama ulama besar pada masanya salah satunya hasan bashri, beliau menolak bukan karena tidak ingin mengamalkan sunnah nabi tapi beliau memang sudah mencukupi cinta beliau terhadap tuhan, dan ingin mengambil hati tuhan sehingga ketika dua cinta yang bersemayam dalam kalbunya akan ada yang lebih di prioritaskan dan beliau tidak mau ketika mencitai makhluk,  akan mengurangi cintanya terhadap tuhan.


Begitu mendalam doa beliau yang semua orang tidak bisa menggunakan doa itu bagaimana tidak sedangkan orang  selain beliau masih doanya berilah kenikmatan dunia akhirat beda dengan doa rabiah yang doanya hanya wajah tuhan tidak berpaling dari beliau, sedangkan doa yang masih meminta kenikmatan dunia akhirat, itu doanya orang kelas bawah,  dan apabila diberi nikmat akan bersyukur dan apabila mendapatkan musibah akan bersabar.


Doa yang masih meminta kenikmatan dunia akhirat adalah doa orang awam yang masih belum mengenal wajah tuhannya, beda dengan orang yang sudah mengenal tuhannya maka doanya akan luar biasa, memang bukan karena untuk di puji oleh manusia, tetapi memang karena faktor kedekatannya terhadap tuhan, sehingga seorang sufi yang besar tidak bisa untuk di hukumi dalam konsep fiqih.


Begitulah pertanyaan seorang sufi terhadap seseorang, bagaimana keadaanmu ? alhamdulillah keadaanku baik dan apabila aku mendapatkan nikmat maka aku bersyukur dan apabila aku mendapat musibah maka aku bersabar,, seorang sufi membalas perkataan itu, begitulah anjing di daerahku manusia apabila diberikan rizki maka dia akan memberikan pada orang lain dan apabila tidak mendapatkan rizki maka di bersyukur, manusia belum sempurna cintanya kecuali  musibah yang menimpanya seperti nikmat yang diberikannya.


Manusia bisa memastikan cinta terhadap tuhan bukan berapa banyak kenikmatan yang di hasilkan, tetapi beberapa banyak musibah yang dinikmati, tapi bagi orang yang mencintai tuhan dengan sungguh maka musibah yang menimpanya seperti kenikmatan karena seorang sufi akan menganggap bahwa musibah yang menimpa dirinya karena cinta tuhan pada dirinya, dan begitulah seorang pecinta sejati tidak merasa terbebani oleh seorang yang di cintainya.


Cinta bisa mematikan ketakutan cinta bisa mematikan kebencian, cinta selalu terukir di setiap hati manusia namun mau di bawa kemana cinta yang Allah titipkan pada hambanya, Allah memberikan cinta sebagai bentuk pertanggung jawaban, orang bisa merasakan cinta, akan tetapi cintanya di gunakan pada yang bukan tempat dan waktu, maka akan siap siap menerima cinta yang bukan sang pemberi cinta. dan siap akan menerima penderitaan dan mungkin akan menghantui seumur hidup.


Sebagaimana apa yang dikatakan ibnu athaillah bahwa seorang pecinta tidak akan mengharap apa apa dari yang dicintai,  cinta seorang hamba pada tuhannya bukan karena ada niat tertentu bukan pula berbentuk huruf dan angka tetapi cinta itu selalu memberi tanpa ada timbal balik, jika cinta sudah bersemayam dalam hati manusia maka, tidak akan menemukan sebuah kekecewaan, karena manusia jika hatinya sudah di penuhi rasa cinta, maka tidak akan menemukan kekecewaan, dan  jika masih kecewa maka ada yang salah dengan yang kau cintai.


Sebuah cerita yang sangat menarik dalam kitab iqodul himam karya Ahmad bin Muhammad bin ajibah Al-hasani syarah dari hikam ibnu athaillah,  ada seorang lelaki yang mengungkap cintanya kepada seorang wanita kemudian si wanita menjawab bagaimana enkau mencintaiku sedangkan ada yang lebih baik dari padaku di belakangmu, kemudian orang lelaki menoleh ke belakangnya, si wanita berkata semoga Allah menjelekkanmu karena kamu seorang pecinta yang mendorong terhadap cinta tetapi kamu malah menoleh ke yang lain.


Seorang apabila mencintai terhadap sang penciptanya tapi dia masih mencintai yang lain sebenarnya  cinta itu cacat, karena masih ada orang lain selain yang menciptakan, bagaimana cinta yang Allah ciptakan kemudian cinta itu diberikan pada orang lain akankah tuhan tidak cemburu terhadap cinta yang telah diciptakan.


Abu yakqub berkata hakikat cinta terhadap tuhan adalah engkau lupa terhadap sebuah keuntungan dari tuhan, dan tidak akan mungkin terlintas dalam fikiranmu sebuah keinginan keinginan terhadap tuhan, karena jika masih ada sebuah keinginan keinginan itu sebenarnya bukan cinta tetapi bisa dikatakan kalkulasi.


Cinta akan tumbuh ketika keuntungan dan keinginan tidak ada dalam fikirannya, cinta itu unik untuk di bahas karena bagaimanapun cinta terkadang tidak masuk didalam analogi bagaimana kita membahas sesuatu yang unik dan tidak masuk analogi, tidak harus dikaji cukup saja di resapi karena jika di kaji tidak akan pernah selasai karena itu urusan tuhan dengan yang di berikan cinta.


Satu hal yang harus di ingat bahwa cinta yang tumbuh dengan sehat, maka tidak akan pernah rasa kecewa, didiklah rasa cinta supaya tumbuh menjadi  bijaksana yang nantinya akan membawamu terhadap suasana yang tidak pernah egnkau temui  sebelumnya kecuali egnkau merasakan cinta terhadap tuhannya.

 

 

Agustus 02, 2023

,


Umat islam berada di jalan yang sama, tidak ada yang lebih mulia di antara umat islam, tidak ada kasta dalam perputaran kehidupan umat islam, semuanya setara kecuali mereka yang lebih Taqwa, maka dia yang dianggap mulia di sisi Allah, bahkan dalam islam memberi hormat kepada nabi secara berlebihan itu tidak di perbolehkan,  semisal hormat sambil berdiri, perbuatan seperti itu nabi tidak suka, begitu pun pada keturunan Nabi, walaupun mereka harus di hormati, namun cukup sekedarnya saja, karena itu merupakan sebuah kehidupan yang semunya mempunyai hak dalam kehidupannya.

islam selalu memberikan konsep yang luar biasa, tidak ada paradigma yang terjadi luar biasa kecuali dalam paradigma keislaman, karena di dalamnya mempunyai banyak tuntunan yang harus di lakukan, dan ini merupakan sebuah konsep yang di bangun oleh pembawa risalahnya sejak 14 abad yang lalu, sehingga mampu bertahan sampai sekarang, dan tidak akan mungkin sebuah pernyataan itu bertahan selama empat belas abad, melainkan sebuah kebenaran, karena itu merupakan sebuah kebenaran yang tidak terbantahkan.

Ada sebuah ungkapan yang mengharumkan umat islam, yang di bawa oleh pemikir Inggris bernama thomas carlyle, dia mengatakan bahwa Nabi muhammad adalah pembawa agama islam yang menjadi lentera dalam kehidupan, dan menjadi sebuah pijakan, yang tidak mungkin pembawanya itu bohong, dan menjadi sebuah pijakan sampai umat islam rela mati demi agamanya, coba kita pikir, mana ada agama lain yang lebih teguh pendiriannya ketimbang umat islam, bahkan mereka rela mati demi agamanya, ini perkataan seorang filsuf Inggris yang mengakui atas kredibilitas nabi muhammad, yang mampu membawa agamanya sampai pemeluknya rela mati dengannya.

Bagaimana mungkin seorang muhammad itu berbohong, sedangkan agama yang di bawanya menjadi lentera selama empat belas abad lamanya, yang tidak akan mungkin bertahan sampai sekarang melainkan dengan kebenaran, karena setiap kebohongan tidak akan melahirkan kebijakan dan keutuhan, walaupun semisal bisa utuh, tapi tidak akan melahirkan sebuah kebijakan.

Umat islam tidak ada yang berbeda, Nabinya selalu menanamkan konsep kesetaraan, sebagaimana Khutbah beliau sebelum meninggal tentang konsep kesetaraan, dia menanamkan tentang kemanusian yang saling membutuhkan, dia menanamkan  bahwa yang kulit putih tidak lebih mulya ketimbang kulit hitam, kulit hitam tidak lebih rendah dari kulit putih, orang arab tidak lebih mulya ketimbang orang yahudi , begitupun sebaliknya, semunya mempunyai kedudukan masing masing, memiliki hak hidup, memiliki hak untuk bisa mengaplikasikan hidupnya, dan setiap orang berhak untuk mengatur hidupnya, lalu apakah ajaran islam ini salah atau justru sebuah kebenaran???.
Nabi di utus pada suatu Kaum, sebab manusia sudah mulai tidak menanamkan konsep kesetaraan, sebagaimana orang romawi yang memperlakukan budaknya seakan barang dagangan, yang bisa di gunakan semaunya, bahkan dicambuk atau tidak di beri makan, memang semua hak budak milik tuannya, bahkan dijadikan bahan pameran sekalipun itu hak tuannya, namun tetap budak itu merupakan manusia, yang mempunyai sebuah kehormatan, dalam agama islam, kalau kehormatan di injak injak, boleh umat islam untuk memerangi dengan alasan menjaga kehormatan.

Dan salah satu tugas Nabi adalah menghilangkan perbudakan, yang mana masyarakat mekkah di zaman jahilah, memiliki kebiasaan melampaui batas dalam menghukum budaknya secara tidak berperikemanusiaan, hal ini terjadi pada bilal bin rabbah, yang di jemur di tengah gurun pasir tandus dan panas, di atas perutnya di letakkan batu besar, sungguh perbuatan tersebut merupakan sebuah ke dhaliman.

Nabi membawa risalah sebagai pemberantas kedhaliman manusia saat itu, sebab konsep kesetaraan tidak terealisasi kan, sehingga manusia tidak mendapati ketenangan dan kedamaian, akibat adanya sebuah perbudakan yang mengakar pada kehidupan sebelum islam, hal itu yang menjadikan Muhammad sebagai sosok nabi saat itu datang dengan proyek besarnya yaitu memberikan ketenteraman dan kedamaian, yang mana hal itu bisa di dapatkan dengan sebuah konsep kesetaraan, karena apabila konsep itu tidak ada, mustahil manusia akan tenteram dan damai, sebab adanya sebuah hak manusia yang tidak  terealisasi kan.

Konsep kesetaraan dan hak asasi yang di gaungkan empat belas abad yang lalu, baru digauangkan oleh PBB pada abad ke sembilan belas, sedangkan hal itu sudah di gaungkan empat belas abad yang lalu oleh  Nabi muhammad SAW. PBB memikirkan manusia yang saat itu tidak mempunyai hak untuk melakukan sesuatu, baik bagi dirinya dan orang lain, dan hal itu lebih dulu sudah di pikirkan oleh nabi besar muhammad SAW. 

Hal tersebut yang menjadikan islam berbeda dengan agama lain, yang memberlakukan konsep kasta seperti umat hindu, yang mana kasta paling tinggi berahma  merupakan kasta yang paling berhak atas sesuatu untuk tuhanya, kasta brahma merupakan kasta yang paling tinggi di agama hindu, kasta yang lain berada di bawah kekuasaanya, sehingga tidak jarang di india kasta yang paling rendah teraniaya.

Di kehidupan agama hindu, kasta brahma bagaikan sebuah kepala dan kasta kesatria ibarat tangannya, yang tugasnya adalah melindungi kasta brahma, dan level yang paling bawah adalah kasta budra, ia bagaikan kaki, yang tugasnya melayani kasta brahma, kehidupannya terserah kasta brahma, bahkan pekerjaannya tidak di bayar dan tidak di permasalahkan. Inilah konsep kehidupan hindu,yang tidak ada jalan untuk hapuskan, sampai sekarang para penguasa di sana memikirkan cara agar konsep kasta segera hilang, namun bagi kaum hindu hal itu tidak akan bisa dihilangkan, sebab mereka menganggap kasta merupakan utusan tuhan.

Mahadma gandi seorang pemikir dari agama hindu, yang sangat kagum terhadap nabi muhammad, dia banyak membaca tentang sejarah nabi muhammad, salah satu yang di kagumi adalah konsep kesataraan dalam risalah muhammad , dia menganggap bahwa }dengan konsep kesataraan manusia bisa hidup berdampingan aman dan damai.
Dia juga ingin menghilangkan konsep kasta yang berada di agama hindu, padahal dia sendiri dari kasta yang tinggi, dengan cara dia menikahkan anak laki lakinya dengan  wanita dari kaum dalit yang tidak berkasta, orang hindu mempercayai bahwa kaum dalit merupakan kaum yang tidak boleh di sentuh karena kaum dalit merupakan kaum yang najis.

Banyak komentar pedas dari para petinggi hindu padanya, mereka mengecam tindakan mahad magandi yang banyak membaca tentang sejarah muhammad, sehingga dia tidak patuh terhadap dewa sendiri, mereka mengacam mahad magandi telah menghinakan tuhan mereka, karena menikahkan anaknya dengan kaum yang najis. 

Islam menjadi  penerang bagi manusia, sehingga orang yang hidup beragama islam merasa tentram dan damai, karena hal itu yang selalu di cari manusia, sedangkan konsep kesetaraan sulit di peroleh di kehidupan sebelum islam. 
Coba kita bandingkan antara kehidupan sebelum islam dengan kehidupan setelah datangnya islam, bagaimana kaum kafir qurais dan kaum romawi sangat bejat terhadap budaknya, bahkan mereka pantas di katakan orang yang dhalim.
Kehidupan sebelum islam di mekah, seakan ada benteng Pemisah antara kehidupan orang kalangan atas dan bawah , tidak ada orang yang  mampu merobohkan benteng itu kecuali nabi muhammad, karena hal itu merupakan tradisi yang mulia menurut mereka, tradisi yang sangat mengakar, apalagi kehidupan arab sebelum islam terkenal dengan orang yang keras kepala, bahasanya yang kasar, mereka tidak bermuka dua, artinya ketika mereka ingin mengatakan sesuatu , pasti mereka mengatakannya walaupun hal itu menyakiti.

Itu sebuah alasan mengapa Nabi muhammad harus hijrah ke Madinah, dakwah beliau di mekah hanya bisa mengislamkan  kurang lebih delapan puluh tiga orang, dalam kurun waktu tiga belas tahun, sedangkan dakwah beliau di Madinah, walaupun hanya sepuluh tahun, tapi penduduk Madinah yang ikut ke agamanya tidak terhitung jumlahnya, dan salah satu faktornya adalah orang madina mayoritas beragama yahudi, yang di dalam kitabnya di jelaskan dengan perinci tentang datangnya agama terakhir.
hal itu menjadi alasan mengapa agama islam di terima setiap golongan, karena dalam konsep dakwah islam adalah konsep kesetaraan, dan dengan konsep kesetaraan, manusia bisa menyampaikan sesuatu yang benar terhadap siapa pun, karena derajat mereka tidak ada yang lebih tinggi dan tidak ada yang lebih rendah, dan hal itu juga akan menghapus rasa canggung diantara mereka, siapa pun berhak menyampaikan sesuatu yang benar, karena mereka menganggap itu merupakan sebuah keharusan sebagai Umat islam.

Dan coba kita pikirkan, andaikan konsep kesetaraan itu tidak ada dalam agama islam, saya yakin islam tidak akan sejaya seperti sekarang, karena pasti umat islam masih ada rasa ketidakpuasan dalam ajarannya atau rasa kurang pantas dalam dirinya, sehingga untuk menyampaikan sebuah kebenaran masih melihat terhadap kedudukannya.

Seandainya manusia masih melihat kedudukan adalah merupakan sebuah konsekuensi kemunduran atau menjadi sebuah kelenturan yang terdapat dalam sebuah ajaran, karena manhaj dalam kesetaraan akan menghilangkan sebuah kedudukan, maka akan terbentuk sebuah fenomena yang terjadi pada diri manusia, contoh konkretnya adalah bahwa setiap ulama yang wafat, tidak langsung di gantikan anaknya, tetapi terdapat seorang penerus yang keilmuannya hampir sama atau bisa jadi melebihi ulama tersebuat, sehingga umat islam, siapapun bebas dan pantas untuk mengungkapkan sebuah kebenaran, jika orang itu mempuni dalam keilmuannya.

Namun tidak semua pantas dalam mendeklarsikan kebenaran, ada orang tertentu yang memang pantas untuk di jadikan panutan dalam mengungkapkan sebuah kebenaran, sehingga walaupun umat islam ada konsep kesetaraan, tapi tidak bisa menghilangkan sebuah konsep kepantasan dalam menyampaikan, karena hal itu memerlukan sebuah ilmu yang harus dikuasai oleh Penyampai kebenaran.

Juli 30, 2023

,


 

Umat islam berada di jalan yang sama, tidak ada yang lebih mulia dari antara umat islam, tidak ada kasta dalam perputaran kehidupan umat islam, semuanya mempunyai kesataraan kecuali mereka yang lebih takwa maka dia yang dianggap mulia di sisi Allah, bahkan memberi hormat kepada nabi pun secara berlebihan itu tidak di perbolehkan apalagi sambil berdiri kelakuan seperti itu nabi tidak suka, apalagi keturunan Nabi walaupun harus di hormati dengan sekedarnya karena itu merupakan sebuah kehidupan yang semuanya mempunyai hak dalam kehidupannya.


Islam selalu memberikan konsep yang luar biasa, tidak ada pradigma yang terjadi luar biasa kecuali dalam pradigma keislaman, karena di dalamnya mempunyai banyak tuntunan yang harus di lakukan, dan ini merupakan sebuah konsep yang di bangun oleh pembawa risalahnya sejak 14 abat yang lalu sehingga mampu bertahan sampai sekarang, dan tidak akan mungkin sebuah pernyataan itu bertahan selama empat belas abat melainkan sebuah kebenaran, karena itu merupakan sebuah kebenaran yang tidak terbantahkan.


Sebagian ungkapan yang mengharumkan umat islam yang di bawa oleh pemikir ingris yang bernama thomas carlyle dia mengatakan bahwa Nabi Muhammad sebagai pembawa agama islam yang menjadi lentara dalam kehidupan, dan menjadi sebuah pijakan, yang tidak mungkin pembawanya itu bohong karena menjadi sebuah pijakan sampai umat islam rela mati demi agamanya, mana ada agama yang lain lebih teguh pendirianya ketimbang umat islam bahkan rela mati demi agamanya, ini perkataan seorang filsuf Ingris yang mengakui atas krediabalitas nabi yang mampu membawa agamanya sampai pemeluknya rela mati denganya.


Bagaimanapun mungkin seorang Muhammad itu berbohong, karena  agama yang yang di bawanya menjadi lentara selama empat belas abat lamanya yang tidak akan mungkin bertahan sampai sekarang melainkan dengan kebenaran, karena setiap kebohongan  tidak akan melahirkan kebijakan dan keutuhan, kebohongon merupakan sebuah konsep yang jika di pakai pasti tidak akan melahirkan keutuhan walaupun bisa utuh tapi tidak akan melahirkan sebuah kebijakan.


Umat islam tidak ada yang berbeda, Nabinya selalu menanamkan konsep kesataraan sebagaina khatbah beliau sebelum meninggal tentang konsep  kesetaraan di menanamkan tentang kemanusian yang semuanya saling membutuhkan, dia menanamkan   bahwa yang kulit putih tidak lebih mulya ketimbang hitam, kulit hitam tidak lebih rendah dari kulit putih, orang arab tidak lebih mulya ketimbang orang yahudi , orang yahudi tidak lebih rendah dari orang arab,  semunya mempunyai kedudukan masing-masing untuk bisa hidup, mempunyai hak untuk bisa mengaplikasikan hidupnya, setiap orang berhak untuk mengatur hidupnya, apakah ajaran ini melainkan sebuah kebenaran.


Nabi datang karena manusia sudah tidak lagi menanamkan konsep kesetaraan sebagaimana orang romawi yang melakukan budaknya seakan akan barang dagangan yang bisa di gunakannya semaunya, bahkan dicambuk dan tidak di berikan makan itu merupakan hak tuannya, bahkan menjadi bahan pameran sekalipun itu hak tuannya, sedangkan itu merupakan manusia yang mempunyai sebuah kehormatan, dalam agama Islam sekalipun kalau kehormatan di injak injak boleh untuk umat Islam memerangi dengan alasan menjaga kehormatan.


Dan salah satu tugas Nabi adalah menghilangkan perbudakan yang mana masyarakat mekah di zaman jahiliyah merupakan sebuah kebiasaan melampaui batas dalam menghukum budaknya sehingga tidak bermanusia, sebagai yang terjadi pada bilal bin Rabbah yang di jemur di tengah gurun pasir yang tandus dan panas yang di atasnya di letakkan batu, dan perbuatan itu melainkan sebuah ke dhaliman.


Nabi membawa risalah sebagai penghalang atas kedhaliman manusia pada saat itu yang konsep kesetaraan tidak tereliasikan pada saat itu sehingga manusia tidak mendapati ketenangan dan ke damaian karena akibat ada sebuah perbudakan yang yang mengakar dalam kehidupan sebelum islam, hal itu yang menjadikan Muhammad sebagai sosok nabi pada saat itu  yang proyek besarnya adalah memberikan kesetaraman dan ke damaian yang mana hal itu bisa di dapatkan dengan sebuah konsep kesataraan karena apabila konsep itu tidak tereliasasikan mustahil manusia akan tentram dan damai karena ada sebuah hak manusia yang tidak  terealiasasikan.


Konsep kesetaraan dan hak asasi yang di gaungkan empat belas abat yang lalu baru digauangkan oleh PBB pada abat ke sembilan belas sedangkat hal itu sudah di gaungkan empat belas abat yang lalu oleh  Nabi islam yaitu Muhammad SAW. PBB memikirkan  manusia yang saat itu tidak mempunyai hak untuk melakukan sesuatu yang baik bagi dirinya dan orang lain dan hal itu sudah di fikirkan oleh nabi besar Muhammad SAW.


Hal itu islam yang menjadikan berbeda dengan agama yang lain yang konsep kasta masih berlaku di umat Hindu, yang mana kasta paling tinggi berahma  merupakan kasta yang paling berhak atas sesuatu untuk tuhannya, kasta brahma merupakan kasta yang paling tinggi di agama Hindu, kasta yang lain berada di bawah kekuasaanya, sehingga tidak jarang di india kasta yang paling rendah teraniaya.


kasta Brahma di kehidupan agama Hindu bagaikan sebuah kepala dan kasta ksatria merupakan bagaikan tangannya, yang tugasnya merupakan sebuah melindungi kasta Brahma, dan yang paling bawah merupakan kasta budra, dan kasta budra bagaikan kaki yang tugasnya melayani kasta brahma, kehidupannya terserah kasta brahma bahkan ketika kerja tidak di bayar tidak ada permasalahan. Dan konsep di kehidupan hindu tidak ada jalan untuk bisa di hilangkan sampai sekarang, para penguasa di sana memikirkan cara agar kasta di sana segera cepat hilang, namun bagi kaum Hindu itu tidak akan bisa dihilangkan karena mereka mengaggap kasta itu merupakan tutusan dari tuhan.


Mahatma gandi seorang pemikir dari agama Hindu yang sangat kagum terhadap nabi Muhammad, dia banyak membaca tentang sejarah nabi Muhammad salah satu yang di kagumi kepada risalah Muhammad konsep kesetaraan, dia menganggap bahwa dengan konsep kesetaraan manusia bisa hidup berdampingan dengan aman dan damai.


Mahatma gandi dia ingin menghilangkan konsep kasta yang berada di agama hindu padahal dia sendiri dari kasta yang tinggi, dengan cara dia menikahkan anaknya yang laki laki untuk menikahi  wanita dari kaum dalit yang tidak berkasta, orang mempercayai bahwa kaum dalit merupakan kaum yang tidak boleh di sentuh karena kaum dalit merupakan kaum yang najis.


Banyak komentar keras  dari para petinggi hindu dia mengecam bahwa mahad magandi terlalu banyak membaca tentang sejarah muhammad sehingga dia tidak patuh terhadap dewa sendiri, mereka mengecam mahatma gandi telah menghinakan tuhan mereka karena menikahkan anaknya dengan kaum yang najis.


Islam memberikan sebuah penerang bagi manusia sehingga orang yang hidup di agama islam merasa tentram dan damai, karena hal itu kehidupan yang selalu di cari bagi manusia, konsep kesetaraan yang sulit di peroleh oleh kehidupan sebelum islam.


Dan coba kita bandingkan antara kehidupan sebelum islam datang dengan kehidupan setelah datangnya islam, bagaimana kaum kafir Qurais dan kaum romawi sangat bejat terhadap budaknya, bahkan mereka pantas di katakan orang yang dhalim.


Kehidupan sebelum islam di mekah seakan ada benteng untuk di satukan antara kehidupan  orang orang  atas dan kehidupan orang bawah , tidak ada orang yang  mampu merobohkan benteng itu kecuali nabi Muhammad, karena hal itu merupakan tradisi yang mulia menurut mereka, tradisi yang sangat  mengakar, apalagi kehidupan arab sebelum islam terkenal dengan orang yang keras kepala, bahasanya yang kasar, mereka tidak ada muka dua, artinya mereka ketika mempunyai sesuatu yang harus dikatakan, mereka mengatakan hal itu walaupun itu menyakiti.


Itu sebuah alasan mengapa Nabi Muhammad harus hijrah ke madhina, dakwah beliau di mekah hanya bisa mengislamkan orang  kurang lebih delapan puluh tiga dalam kurun waktu tiga belas tahun, sedangkan dakwah beliau di madhina walaupun hanya sepuluh tahun manusia yang ikut ke agama muhammad tidak terhitung jumlahnya, dan salah satu faktornya orang madhina mayoritas agama nasrani  yang di dalam kitabnya di jelaskan dengan perinci tentang datangnya Nabi terakhir.


hal itu sebuah alasan mengapa agama islam di terima  di setiap golongan, karena dalam dakwah pertama kali  itu adalah konsep kesetaraan karena dengan konsep kesetaraan manusia bisa menyampaikan sesuatu yang benar terhadap siapapun, karena hal itu tidak ada yang lebih tinggi dan tidak ada yang lebih  rendah, dan hal itu rasa canggung di antara mereka tidak ada karena tidak ada yang lebih tinggi pangkatnya, siapapun berhak untuk menyampaikan sesuatu yang benar  karena mereka mengaggap itu merupakan sebuah keharusan sebagai agama islam.


Dan coba kita fikirkan andaikan konsep kesetaraan itu tidak ada dalam agama islam, saya yakin islam tidak akan sejaya seperti sekarang, karena di dalamnya masih ada rasa ketidak puasan dalam ajarannya atau rasa kurang pantas dalam diri manusia, sehingga untuk menyampaikan sebuah kebenaran masih melihat terhadap kedudukannya.


Andaikan manusia masih melihat terhadap kedudukan itu merupakan sebuah konsekuensi dalam kemunduran atau bisa  menjadi sebuah kelenturan yang terdapat dalam sebuah ajaran karena manhaj dalam kesetaraan akan menghilangkan sebuah kedudukan karena akan terbentuk sebuah fenomena yang terjadi pada diri manusia contoh konkretnya adalah bahwa setiap ulama yang wafat itu bukan di ganti oleh anaknya tetapi terdapat sebuah penerus yang keilmuannya hampir sama rata atau bisa jadi melebihi ulama tersebut sehingga umat islam di dalamnya siapapun pantas untuk mengungkapkan sebuah ke beneran jika orang itu mampuni dalam pandangan kebenaran.


Namun tidak semua pantas dalam mendeklarasikan kebenaran, ada orang tertentu yang yang memang pantas untuk di jadikan panutan dalam mengungkapkan sebuah kebenaran, sehingga walaupun umat islam ada konsep kesataraan juga tidak bisa menghilangkan sebuah konsep kepantasan dalam menyampaikan karena hal itu memerlukan sebuah ilmu yang harus dikuasai olehnya.

 

 

 


Juni 26, 2023

,

Tiga  Mimpi Yang Terpercaya 


Malam yang di selimuti ke tidak pastian 

 Mimpi yang telah di takdirkan 

Pada hamba yang sudah di sandiwarakan 


Ibrahim tidak percaya dengan apa yang di takdirkan 

Mimpi yang menyelimutinya seakan menjadi duka baginya

Karena mimpi tersebut harus mengorbankan jiwa yang sudah menghiasinya 


Namun mimpi itu datang kembali di keesokan harinya

Di atas kasur yang terarai

Ber simpa di bawah kegelapan hati

Karena mimpi datang kembali


Mengkritik pada sang pencipta alam ilahi

Karena mimpi datang kembali pada jiwanya 

Apakah tuhan yang mencintaiku atau aku yang membencinya

Itu derungan hati Ibrahim 


Entah hati sang Ibrahim di selimuti kegelapan 

Atau tuhan ingin menghilangkan kegelapan 

Ibrahim  meletakkan dahinya lalu mengadu kepada tuhan atas apa yang menimpanya

Namun di malam yang ketiga kalinya 


Mimpi itu terus datang di tidurnya Ibrahim

Waktu itu Ibrahim tertidur nyenyak di atas tanah yang berarti

Di bawah mimpi yang datang kembali 

Tentang mutiara yang telah ter sinari


Harus mati sebagai pengorbanan di alam yang pasti

Ibrohim mengadu pada tuhannya

Oh tuhan jika mimpi ini sebagai janjiku kepadamu wahai tuhanku 

Aku ikhlas aku ridha atas pilihanmu 


Tapi aku sangat cinta pada anakku 

Karena dia satu satunya anakku setelah sekian lama aku mendambakannya 

Tetapi ini sudah keputusanmu, aku harus pasrah dan ridha atas takdirmu 

Di balik takdirmu itulah yang terbaik bagi diriku dan keluargaku


Biarkan Ismail kuserahkan padamu wahai tuhanku

Ismail rela mati yang menjadi hiasan dalam hidupku

Pada nyawa yang di panggil sang ilahi untuk dikorbankan pada hari ini

Nyawa Ismail bagaikan tali


Harus di sembelih di atas batu yang murni

Sang iblis mengobarkan api 

Pada bunda yang melahirkan Ismail

Untuk meronta pada kekasihnya yaitu Ibrahim


Akan tetapi tuhan mentakdirkan yang lain 

Yang menjadi hari besar umat muslim 

Hari raya  idul adha lahir batin 


Karya Samlan As Solih 19, agustus, 2017






Maret 23, 2023

,









Ibadat merupakan sebuah pengakuan seorang hamba terhadap tuhannya sehingga dengan mengaplikasikan  ibadat merupakan sebuah  tiket  atas kepatuhan seorang hamba  terhadap tuhannya. Maka dengan demikian ketika ibadat merupakan sebuah kewajiban terhadap sang pencipta, sang pemberi segalanya, maka dengan meninggalkannya merupakan salah satu  dosa besar, karena setiap ada perintah di situlah ada sebuah larangan, dan juga sebaliknya  setiap ada larangan pasti ada perintah.


Ada tiga definisi mengenai ibadat di {KBRI}, pertama perbuatan atau pernyataan bakti terhadap Allah atau tuhan yang didasari oleh peraturan agama, kedua segala usaha lahir dan batin yang sesuai perintah agama yang harus dituruti pemeluknya, ketiga upacara yang berhubungan dengan agama.


Namun tidak semua ibadat itu wajib  tergantung dari hukum yang sudah Allah perintahkan ada  yang sunah{perbuatan apabila dikerjakan mendapat pahala apabila tidak dikerjakan tidak berdosa}, mubah {boleh di lakukan tetapi boleh juga tidak}. Dan juga personal dan universal, dan ada yang jika tidak bisa mengerjakan semuanya maka bisa mengerjakan salah satunya, ada juga dalam sigt Ruhshah{keringanan hukum}. 


Ibadat merupakan salah satu tujuan Allah menciptakan manusia sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Quran “dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepadaku” {QS adz dzaariyaat 55:56} salah satu tujuan manusia hidup dengan beribadat kepada sang penciptanya karena itu merupakan sebuah pengabdian pada Allah adapun caranya untuk mengabdi kepada Allah lewat sarana ibadat karena eksistensinya seorang manusia adalah mengabdi pada Allah.


ibadah tidak selalu tentang Shalat, puasa, zakat dan haji tapi bersabar atas  sesuatu yang menimpa terhadapnya merupakan suatu ibadat, misalnya ada salah satu temanmu yang menyakitimu atau membicarakan keburukan di belakangmu dan kamu mengetahuinya tapi kamu hanya memilih sabar, maka itu termasuk salah satu ibadat.


karena kenyataan yang sebenarnya penghambaan bukan selalu dalam konteks  shalat, puasa, zakat dan lainya yang menurut sebagian orang dikatakan konteks ibadat, tidak selalu duduk bersila ditemani Al-Quran di hadapannya, dan juga tidak  selalu berbicara mengenai syariat  di hadapan orang banyak, tapi bercocok tanam di sawah dengan  badan berlumuran tanah yang diniatkan untuk kebaikan merupakan suatu penghambaan pada Allah.


Tapi, yang sulit dalam mengimplementasikannya , karena ibadat bukan hanya sekedar kata kata yang keluar dari lisan manusia, bukan hanya duduk bersila memegang tasbih di tangannya, bukan pula duduk sambil baca Al-Quran , tapi ibadat yang baik  adalah  mengakomodasikan antara  zaman dan tempat, dan mengimplementasikan sebuah keadaan sebagai bentuk sentral untuk ibadat.


Ibadah bermacam macam sesuai dari urgennya masing-masing. Jika itu terjadi pada orang kaya maka ibadahnya  dengan kedermawanan, jika terjadi pada orang miskin maka bentuk ibadahnya  dengan sabar atas kemiskinan, jika sedang berstatus siswa atau  mahasiswa maka bentuk ibadatnya dengan semangat belajar, jika dalam keadaan berstatus  pedagang bentuk ibadatnya dengan kejujuran, jika  seorang anak bentuk beribadahnya dengan berbakti kepada orang tuanya, seorang tuan rumah beribadahnya dengan melayani tamunya.


 secara garis besar ibadah merupakan suatu akomodatif  yang mendorong untuk berbuat baik, jika berbuat baik antar sesama di situlah bentuk ibadat. seperti maqolah” setiap keadaan ada bentuk ibadahnya dan setiap zaman ada bentuk penyikapanya”. Keadaan bisa di gunakan sebagai sarana  dalam  bentuk ibadat, namun ada dimensi tersendiri dalam pengimplementasian keadaan, dengan waktu yang terbatas namun ada sebuah peluang untuk menuju visi yang sudah tertata rapi.


Melihat dari maqalah tadi maka yang starategis dalam bentuk ibadah  di dewasa ini  adalah dengan memikirkan keadaan zaman yang dinamis, mungkin kalau zaman di abat kedua sampai ke tiga belas Hijriyah pola ibadatnya dengan berperang melawan musuh Islam, seperti berdirinya dinasti Utsmaniyah yang sistem pemerintahanya berbentuk monarki, berdirinya akibat  peperangan, tapi kalau diera dewasa ini yang serba  modern maka tidak mungkin bentuk ibadat dengan mengangkat senjata, memasang wajah dengan tombak,  sebab dinamika sekarang ini tidak sama dengan  keadaan di era Utsmani.


poin besarnya adalah ketika umat Islam  mengangkat senjata sungguh sangat ironis bagi umat islam sendiri dengan memberikan peluang besar terhadap musuh Islam dengan menganggap bahwa ada kelenturan di pemikiran umat Islam sendiri, karena di era dewasa ini mengangkat senjata bukan sebuah keharusan yang harus dilakukan umat Islam tapi yang harus dilakukan dengan meninggikan ideologi umat Islam tersendiri, dan harus memberikan nutrisi terhadap pikiran umat Islam yang pola pikirannya ekstrim, supaya bentuk berpikirnya tidak jumud [ kaku dan tidak berkembang], karena pemikiran umat Islam harus berpikir dengan realistis. 


Banyak dari segelintir kelompok atau ormas Islam yang meninggikan emosinya dalam berdakwah bahkan ada yang sangat mengganggu terhadap ke tentraman antara sesama, kelakuannya  Cuma membuat gaduh umat Islam dengan membawa nama agama dan nabi Muhammad Saw. dalam menghukuminya dan mengira bahwa apa yang dilakukannya merupakan sesuai dengan agama, dan berdalih bahwa kelakuannya sesuai ajaran Rasulullah Saw.  Bahkan ada yang saling mencela antar sesama yang berbeda pendapat dengan mereka menganggap dialah yang yang paling benar, dan tidak menyadari bahwa mencela antara sesama merupakan sesuatu yang tidak diperbolehkan.


Seperti yang dikatakan oleh Assyairozy kepada anaknya dengan muka marah“ tidurmu lebih baik dari pada celaanmu” yang memang waktu itu keduanya bangun malam dan sudah Shalat tahajud dan keduanya saling berbincang dan anaknya syekh Assyai Rozy agak bercurhat pada bapaknya  dan berkata “ andaikan orang orang bangun sekedar Shalat tahajud dan dilanjutkan tidur lagi”  itulah yang membuat syekh Asysai Rozy marah pada anaknya. 


Sifat mencela antar sesama golongan tidak di perbolehkan apalagi saling mengadu domba antar golongan yang akan membuat sesama golongan saling bertumpah darah. Kalau hanya tidak suka yang membuatnya mencela  karena akibat tidak satu pendapat ini akan menjadi problem besar di dalam kehidupan karena di dalam Al-Quran sudah di sinyalir tentang perbedaan tersebut” sekiranya Allah menghendakinya niscaya kamu dijadikannya satu umat[saja], tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberiannya kepadamu” { Q s Al Maidah 5:48} jika hanya tidak satu arah dengan keyakinan dan pemikiran kita  jangan sampai melontarkan kata kata yang kotor apalagi saling mencela dan menghujat, karena tidak sama bukan berarti salah itu hanya merupakan sebuah hikmah dan kebijaksanaan.


Sebut saja Indonesia yang sistem pemerintahannya demokratis, dalam kebebasan berpendapat sangat di sayangkan, bahkan kebebasannya  di media tidak ada penghalang untuk melakukan segalanya, beda ras atau golongan  saling menjatuhkan terhadap  yang lainnya, dan ini terjadi akibat kekurangan ilmu dan pengalaman. semakin tinggi keilmuan seorang dan semakin luas pengalam seseorang maka akan sulit menemukan kesalahan pada diri seseorang, karena ilmu sangat luas, semakin menyelamnya semakin sulit melihat kesalahan orang lain. Dan ini tidak bisa di hindari akibat dari kebebasan berpendapat.


Dalam satu sisi sistem kebebasan berpendapat sangat memberikan maslahat dengan memberikan peluang pada seseorang untuk menyuarakan pikirannya,  apa yang dikehendakinya mereka bisa berpendapat sesuai  dengan pikirannya,  terutama bagi orang yang mempunyai cita cita besar atau mempunyai cita cita  menjadi bintang di bibir orang banyak. namun disisi lain  sangat mendatangkan mafsadat yang besar  apabila kebebasan tersebut ditangani oleh orang orang yang tidak bertanggung jawab  dan akhirnya timbullah saling mencela pada sesama.  


pemikiran umat Islam sebagai alat atas kemajuan umat Islam sendiri. dan dengan melalui pikiran yang super pawer memberikan dorongan terhadap kemajuan Islam, dengan memberi arah pemikiran yang baik. Seperti pemikiran Soekarno  yang disampaikan oleh Fahri hamzah” kalau hukum Islam mau tegak di Indonesia jadilah Islam yang hebat masuklah di dalamnya menjadi DPR dan berperanglah melalui pemikiran ”kalaupun oleh kaum sufi tidak terlalu suka terhadap pemerintahan karena di di dalamnya banyak yang syubhat  ( ada kebimbangan  di dalamnya antara yang hak dan batil) tapi menurut seorang pemikir Islam menolak terhadap pendapat kaum sufi sebab kalau yang memegang otoritas pemerintahan di ambil alih oleh yang tidak tahu tentang syariat maka akan membawa kehancuran  yang besar.


Dan juga ada banyak seorang ulama besar  yang menjadi hakim, seperti imam syafi'   beliau juga pernah menjadi hakim dimasa hidupnya sebab kedudukan hakim sangat sentral dalam penyebaran dakwah apalagi dalam penegak keadilan.


kalau keadaan dewasa ini dakwah yang baik yaitu dengan melalui sosial media,  maka dengan menjadikan sosial media  sebagai alat untuk salah satu ibadah pada sang penciptanya, minimalnya kita harus update dalam dunia sosial media, Carilah  bentuk yang pantas  dalam mengaplikasikannya. 


Dalam dewasa ini ada sebuah kebimbangan  yang sangat urgen untuk dikaji serius, karena melihat realitas  yang terjadi di tengah masyarakat tentang hukum hukum yang dibawa oleh segelintir orang yang tidak bertanggung jawab dengan mendalihkan nama agama bahkan ada yang mengatas namakan perintah Rasulullah dengan demikian maka kita mempunyai tugas besar yang status maha siswa untuk mengkaji sedalam mungkin.


Bahkan ada hal yang unik dalam realitas masyarakat dalam sisi lain masyarakat ada yang menimba ilmu di pesantren tapi mereka masih mempercayai realistis yang dibawa oleh orang yang  kualitas keilmuannya masih dangkal.


Karya  Samlan as solih

Sebagai salah satu divisi media FOSIKBA 



 

Oktober 25, 2022

,

 


Islam sangat menghargai dan mementingkan perihal waktu. Pengamat hukum Islam menyadari sejauh mana Islam melestarikan waktu dan sangat hati-hati dalam mengelolanya. Sehingga tidak ada waktu yang terbuang sia-sia. Islam telah menentukan waktu-waktu ibadahnya, dan itu semua menunjukkan pada suatu konsep aturan yang jelas dan penghormatan terhadap waktu.

Seperti yang sudah kita ketahui bahwa waktu salat wajib itu dari fajar, dhuhur, ashar, maghrib dan isya'. Semua waktu tersebut telah ditentukan oleh wahyu ilahi dan ada awal dan akhirnya. Sehingga jika waktu berakhir maka tidak bisa melakukan ibadah yang bersifat ada'i, hanya yang bersifat qadha'i. Hal ini dikarenakan waktu yang telah ditetapkan oleh syariat telah berakhir.

Tak hanya salat wajib saja, rukun Islam yang lain juga ada waktunya, seperti puasa. Untuk puasa ada waktu per tahun dan juga waktu khusus per harinya (dari terbitnya fajar sampai matahari terbenam). Sedangkan waktu mengeluarkan zakat ketika hartanya telah dimiliki selama setahun dan seterusnya. Dan rukun Islam yang terakhir (haji), waktu pelaksanaannya pada bulan Syawal, Zulkaidah dan Zulhijjah. 

Seorang muslim seyogyanya menggunakan waktunya dengan baik. Karena semua yang diperbuat akan dipertanggungjawabkan. Sebagaimana nikmat yang telah Allah Swt. berikan kepada kita. Hal tersebut sesuai dengan sabda Rasulullah Saw. yang artinya: "Pada hari kiamat, kaki seorang tidak akan bergerak kecuali telah ditanyakan 4 hal. Pertama, tentang hal yang telah dilakukan selama hidupnya. Kedua, tentang hal yang dikerjakan ketika remaja. Ketiga, tentang sumber memperoleh harta dan digunakan apa saja harta tersebut. Keempat, tentang apa saja ilmu yang diamalkan. 

Segala perbuatan manusia di dunia yang fana ini pasti akan dibalas. Di setiap harinya, tahunnya dan sisa waktu lainnya. Apakah dia menggunakannya dengan taat kepada Allah Swt. atau kemaksiatan? Apakah dihabiskan dengan rajin bekerja, mencari mata pencaharian, melakukan hal yang bermanfaat bagi diri sendiri, orang lain dan masyarakat atau tidak seperti itu?

Kebanyakan manusia hanya melakukan sebagian dari pekerjaan mereka. Mereka meninggalkan banyak pekerjaan yang seharusnya diselesaikan. Hal tersebut dikarenakan suatu sebab dan ada yang tidak. Adapun penyebabnya ada yang karena tidak selaras dengan ketua perusahaannya, tidak cocok dengan teman kerja atau keluarganya. Ketika mereka datang kepadanya karena ada kebutuhan yang harus direalisasikan, dia tidak merespons dengan baik dan terus menunda. Bahkan terkadang diserahkan kepada orang lain. Gaji yang didapatkan dari hal tersebut tidak halal. Bukan harta yang baik. Orang tersebut seperti manusia yang memakan harta orang lain melalui cara yang batil, tak sesuai syariat. Padahal semampu apapun menyembunyikan sesuatu, Allah pasti mengetahui. Ketidaklarasan atau ketidakcocokan seseorang dengan yang lain bukan menjadi alasan untuk mengakhirkan pekerjaan, mengabaikan kewajiban dan menyia-nyiakan banyak waktu. 

Termasuk penyebab seseorang membuang-buang waktu dan berpaling dari kewajibannya yaitu mendahulukan kepentingan khusus atau kepentingan pribadi. Meskipun diisi dengan pekerjaan, akan tetapi hal tersebut dilakukan bukan pada waktunya. Sudah seharusnya kita mendahulukan kepentingan bersama dari pada diri-sendiri. Ketika seseorang lebih mengutamakan kepentingan pribadi, dia telah menghilangkan hak-hak masyarakat atau orang lain. Contoh di atas bisa kita sebut dengan "Pencuri Waktu" atau "Pencuri Bertopeng". Kenapa disebut pencuri? Karena mencuri tidak khusus pada harta ataupun benda. Namun waktu juga bagian darinya. Sudah jelas mereka mencuri banyak waktu kerja dan kemaslahatan bersama. Mereka sibuk dengan kepentingan pribadinya. Tak ada beda antara pencuri dengan mereka.

Corak manusia yang lain yaitu mereka yang tak bekerja dan mengabaikannya tanpa adanya sebab. Mereka hanya bermalas-malasan, mageran, selalu ingin istirahat, menggunakan waktu kerja dengan duduk santai sambil minum minuman, atau membaca koran, majalah, berbincang bersama teman kantor hanya untuk hiburan dan pada akhirnya waktu kerjanya dihabiskan dengan hal tersebut sampai tiba waktu pulang kerja.

Hal di atas merupakan contoh manusia yang zalim terhadap dirinya sendiri, temannya dan orang lain. Dia tidak menghadirkan Allah di dalam hatinya ketika bekerja dan tidak merasa bahwa Allah mengetahui upah yang didapat dari pekerjaannya. Bagaimana dia menghalalkan gaji kerja sedangkan dia tidak melaksanakan hal memang menjadi tugasnya? Islam sungguh menolak motif manusia yang seperti itu. Islam mengajak kita untuk memerangi sifat malas, lalai dan mendahulukan kepentingan pribadi.

Setelah penjabaran 3 macam orang yang membuang-buang waktu di atas, dapat kita ketahui penyakit yang ada di dalam jiwa mereka. Pertama, kelalaian. Kedua, mendahulukan kepentingan pribadi dan bertindak sewenang-wenang terhadap kepentingan bersama. Ketiga, kemalasan.

Jika kita mengamati ajaran Islam, kita akan mengetahui bahwa islam betul-betul memperingatkan agar memelihara diri dari 3 penyakit tersebut. Karena hal itu dapat membuang banyak waktu dengan sia-sia. Islam memerintahkan kita untuk menekuni suatu pekerjaan, jujur dan tulus dalam menjalani, serta meningkatkannya. Nabi Muhammad Saw. bersabda yang artinya, "Sesungguhnya Allah mencintai salah seorang dari kalian yang ketika bekerja dia menekuninya." Islam juga mengajak kita bekerja keras, beraktivitas dan memperelok pekerjaan kita. Semuanya akan mendapat balasannya masing-masing dan berada di bawah pengawasan-Nya. Allah Swt. berfirman:

 وَقُلِ ٱعْمَلُوا۟ فَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُۥ وَٱلْمُؤْمِنُونَ ۖ . . . (سورة التوبة ٩:١٠٥)

 Artinya: "Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu,..."


Karya : Dr. Umar Hasyim

Penerjemah: Ahmad Farhan Syaf

Oktober 15, 2022

,

 




Oleh: Afifuddin

Hadis merupakan sumber ke dua di dalam agama Islam setelah al-Qur’an, dan juga para ulama’ sering menyebut sumber kedua ini dengan Sunnah. Dalam segi bahasa Sunnah adalah sirah yang artinya adalah perilaku, baik ataupun buruk.¹  Adapun istilah sunnah menurut ulama’ hadis ialah segala sesuatu yang disandarkan kepada Rasulullah Saw. Di antara ke dua sumber syari’at Islam ini (al-Quran dan Sunnah) mempunyai hubungan yang sangat kuat, sehingga umat Islam tidak bisa meninggalkan salah satunya. Sunnah merupakan suatu hal yang sangat strategis bagi umat Islam, ia (Sunnah) yang menjabarkan dasar-dasar ajaran Islam yang terdapat dalam sumber utamanya. Al-Qur’an memerlukan penjelasan dan rincian supaya dapat dilaksanankan, dan penjelasan serta rincian tersebut tertuang di dalam Sunnah.

Mereka adalah suatu kelompok dari umat Islam, yang mengingkari atau tidak butuh kepada Sunnah, dan mencukupkan al-Qur’an sebagai satu-satunya sumber dalam syari’at Islam. Mereka juga sering menyebut dirinya dengan sebutan Al-qur’aniyyun. Rasulullah telah mewanti-wanti jauh sebelum 14 abad yang lalu akan adanya kelompok tersebut, dengan memberi tau kepada para sahabatnya bahwa akan muncul sebuah kelompok yang tidak percaya dan mengingkari sunnah.

Awal mula munculnya inkar Sunnah pada abad kedua (hijriah), dan Imam Syafi’i adalah orang pertama yang menghadapi mereka, dengan membantah syubhat-syubhat mereka di dalam kitabnya al-Umm.²  Tidak sedikit dari para ulama’ yang menulis sebuah kitab terkait pendapatnya tentang orang-orang yang mengingkari Sunnah, dan orang yang mencukupkan untuk kembali ke Al-Qur’an saja. Diantaranya; Imam Syatibi pada kitabnya Al-Muwafaqot fi usul As-syari’ah, dan begitu juga Imam Suyuti yang beliau beri nama kitabya Miftah al-Jannah fi Ihtijaji bi as-Sunnah, beliau membantah habis-habisan pendapat-pendapat nyeleneh ingkar Sunnah. Dari para ulama Azhar sendiri telah menjelaskan dan mengeluarkan pendapatnya tentang permasalahan ini, diantaranya; Dr. M Sayyid Tantawi mensifati setiap orang yang butuh kepada al-Qur’an saja dan mengenyampingkan Sunnah dengan sifat bodoh yang tidak tau akan agamanya, serta beliau juga menjelaskan bahwa Sunnah adalah ketetapan dari Allah dan Rasul-Nya, adapun lafadznya dari Rasul akan tetapi ma’nanya wahyu dari Allah. Al-Imam al-Akbar Syekh Ahmad Toyyib berkata dalam permasalhan ini “ bermain-main terhadap sunnah dan meragukan atas kesuciannya, itu adalah permasalahan yang sejak dulu ada, dan tidak akan hilang selama agama ini tetap kokoh berdiri”.

Di anatara dalil mereka yang sering di jadikan hujjah, bahwa al-Qur’an telah menerangkan semua tentang syari’at ini secara terperinci, dengan berdasarkan nash al-Quran: 

ما فرطنا فى الكتاب من شيء

Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam kitab.³

ونزلنا عليك الكتاب تبيانا لكل شيء

Dan Kami turunkan kitab (al-Qur’an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu.⁴

Inkar Sunnah menyimpulkan dengan ke dua ayat di atas, bahwa al-Qur’an telah menjelaskan dan mencakup segala hal pada syari’at islam. Lalu apa gunanya masih butuh kepada Sunnah? Kalau seandainya Al-Qur’an masih butuh kepada penjelasan Sunnah, maka secara tidak langsung di dalam al-Qur’an terdapat kontradiksi sedangkan adanya kontradiksi pada al-Qur’an itu mustahil.  

Pemikiran seperti ini, tidak lain karena adanya kejahilan seperti yang telah disifati oleh para ulama kita. Sangat betul bahwa Al-Qur’an telah menjelaskan semua tentang syari’at ini, seperti halnya kaidah-kaidah hukum dan pondasi syari’at, namun al-Quran sendiri menjelaskan sebagiannya saja, dan meninggalkan sebagiannya yang lain untuk Rasulullah jelaskan kepada ummatnya, Allah berfirman :

وأنزلنا اليك الذكر لتبين للناس ما نزل اليهم ولعلهم يتفكرون

Dan Kami turunkan ad-Zikr (al-Qur’an) kepadamu, agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah di turunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan.

Dari ayat ini bahwa Rasulullah diperintah langsung oleh Allah, untuk menjelaskan kepada umat Islam apa-apa yang ada di dalam al-Qur’an, maka sangat tidak masuk akal dengan orang-orang yang hanya mencukupkan kepada al-Qur’an, dan inkar terhadap Sunnah, sedangkan salah satu fungsi dari pada Sunnah adalah menerangkan dan menjelaskan yang ringkas (mujmal) di dalam al-Qur’an. Seperti halnya Allah memerintahkan kepada umat Islam untuk mendirikan shalat, sedangkan al-Qur’an sama sekali tidak menjelaskan jumlah waktu solat siang dan malam, dan berapa jumlah raka’at pada setiap shalat, serta  bacaan apa yang harus dibaca ketika shalat. Semua itu Sunnahlah yang menjelaskan semuanya.  Begitu juga tentang permasalahan zakat, haji dan ibadah serta hukum-hukum pada syari’at ini.

Dengan syubhat ini secara tidak langsung, mereka (Inkar Sunnah) ingin membutakan umat Islam pada hakikat al-Qur’an, sebab tidak sempurna syari’at Islam tanpa adanya penjelasan dari Sunnah. Seringkali ada permasalahan halal dan haram, perintah dan larangan di dalam Sunnah, yang mana al-Qur’an tidak menyebutkan hal tersebut, dan ketika umat Islam sudah buta, atas perintah apa yang dimaksud oleh Allah dalam sumber utamanya (al-Qur’an), di saat itu juga umat Islam akan meninggalkan al-Qur’an. Mereka (inkar Sunnah) pada hakikatnya tidak percaya kepada al-Qur’an, dan tujuannya adalah ingin menghancurkan Islam dengan mempelajari al-Qur’an dan Sunnah, padahal mereka tidak iman kepada dua sumber syari’at Islam tersebut.

Kita sebagai umat Islam sangatlah butuh kehati-hatian  dalam menjaga syari’at ini, sebagaimana para ulama telah menjaga utuh apa yang di sampaikan oleh Rasulullah. Guru merupakan peran penting untuk menentukan karakter individu seorang muslim, untuk membentengi dari paham-paham nyeleneh seperti halnya paham syi’ah, wahabi dan paham ingkar sunnah, Imam Ibnu Sirin berkata: “Ilmu ini adalah sebagian dari agama, maka lihatlah (perhatikanlah) dari siapa kalian memperoleh ilmu agama.” Wallahu a’lam....

Refrensi : 


¹ Al-Maliki, Sayyid Muhammad. “Kitabu al-Minha al-Latif” hal 9.

² Lihat buku Subhat haula al-Hadis (diktat kuliah tk2) hal 14.

³ Surat al-An’am, ayat 38.

⁴ Surat an-Nahl, ayat 89

Oktober 11, 2022

,

 


         Safinah, seorang budak wanita yang pernah mengabdikan dirinya pada keluarga Rasulullah. Ia membantu pekerjaan rumah, dari menumbuk gandum, membuat roti, memasak dan lain sebagainya. Meski berstatus budak, ia dianggap seperti keluarga sendiri. Karena itulah Safinah bahagia dapat melayani Rasulullah dan keluarganya. Bahkan meski ia telah dibebaskan Rasulullah dari statusnya sebagai budak, Safinah enggan dikenal orang kecuali sebagai budak Rasulullah. Ia mengenalkan dirinya sebagai Safinah maula Rasulullah, yakni bekas budak Rasulullah. Kemana pun Safinah pergi, ia selalu menyebut dirinya maula Rasulullah dengan bangga.


        Suatu hari, Safinah pergi ke kawasan pantai. Ia kemudian menumpang sebuah perahu. Diarunginya lautan tanpa menduga sebuah bencana ada di hadapannya. Tiba-tiba perahu yang ditumpanginya pecah terhempas ombak. Penumpangnya berhamburan ke lautan. Ada yang tenggelam, ada yang selamat. Safinah adalah salah satu penumpang yang selamat. Saat perahu yang ditumpanginya pecah, Safinah sempat tenggelam. Namun dengan cekatan ia segera mengambil salah satu papan perahu yang pecah tersebut. Ia pun terapung-apung di atas papan kayu itu seorang diri, Safinah terapung di lautan. Ia hanya bisa pasrah mengikuti ke mana ombak akan membawanya. Satu-satunya yang bisa ia lakukan hanya bertawakkal. Lalu tiba-tiba angin bertiup sangat kencang. Ombak di lautan menjadi sangat ganas. Tubuh Safinah terpelanting mengikuti arah angin. Tak terbayangkan bagaimana wanita itu bertahan hidup seorang diri di tengah lautan. Allah lah yang Maha Menyelamatkan. Ternyata angin itu justru membawa tubuh Safinah ke daratan. Safinah mendarat di sebuah pulau yang berisi hutan belantara. Ia pun memasuki hutan itu dengan keberaniannya. Safinah merasa aman berada di dalam hutan. Ia tak lagi terombang-ambing di lautan. Ia terus menelusuri hutan itu mencari jalan keluar. Berharap ada sebuah kampung di balik hutan belantara yang lebat itu. Namun Safinah terus berjalan dan berjalan. Ia tersesat tak menemukan jalan keluar. Alih-alih keluar dari hutan, Safinah justru bertemu dengan seekor singa. Sang raja hutan menghampiri Safinah hendak menerkam. Namun Safinah ternyata sosok wanita yang sangat pemberani. Ia tahu semua hewan adalah hamba Allah dan menghormati Rasulullah. Ia pun menyeru kepada Abu Haris, julukan bangsa Arab untuk si raja hutan.

“Wahai Abu Haris, aku ini maula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,” kata Safinah.

Ternyata singa itu mengerti ucapan Safinah. Ia mengangguk-angguk lalu menahan diri dari menerkam Safinah. Namun singa itu tetap mendekat, bukan untuk melahap Safinah, melainkan ingin mengantar sang maula Rasulullah. Dengan bahunya, singa itu mendorong-dorong tubuh Safinah. Ia ingin Safinah melalui suatu jalan yang ternyata adalah jalan keluar dari hutan. Singa itu mengantar Safinah hingga ke pinggir sebuah jalan menuju pemukiman.


         Setelah mengantar Safinah, singa itu pun mengaum lalu kembali memasuki hutan. Safinah memaknai auman itu sebagai ucapan selamat tinggal dari si singa. Safinah begitu takjub, senang, sekaligus bersyukur atas kekuasaan dan rahmat Allah. Safinah pun selamat dari perjalanan yang sangat melelahkan lagi membahayakan itu. saat kembali, ia senang mengisahkan pengalaman ajaibnya. Yakni pengalaman diselamatkan singa karena statusnya sebagai maula Rasulullah. Bahkan seekor singa pun menghormati dan menyayangi Rasulullah, keluarganya, shahabatnya, bahkan maulanya.


Berikut cerita dari lisan Safinah yang termaktub dalam Kitab Al Isti’ab. 

“Ketika itu, aku menumpang perahu, tak kusangka perahuku pecah. Aku menyelamatkan diri dengan menaiki salah satu papan perahu itu. Tiba-tiba, angin kencang melemparkanku hingga aku berada dalam hutan yang dihuni seekor singa. Singa tersebut menghampiriku, maka aku berkata kepadanya, ‘Wahai Abu Haris, aku ini maula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian kepalanya mengangguk. Dia mendekatiku lalu mendorong-dorongku dengan bahunya hingga keluar hutan. Aku diantarkan sampai ke pinggir sebuah jalan. Setelah itu, singa tersebut mengaum. Sepengetahuanku, ia mengucapkan selamat tinggal. Demikianlah akhir pertemuanku dengan seekor singa.”

Dari kisah ini Imam Syarofuddin Abu Abdillah Muhammad Bin Sa’id Al-Bushiri, atau yang masyhur dengan sebutan Imam Bushiri bersya’ir dalam kitab burdahnya, yang berbunyi:


             إن تلقه الأسد في آجامها تجم   ومن تكن برسول الله نصرته     ***                

“ barang siapa yang menolong rasulullah dalam berperang melawan musuh-musuhnya (orang-orang kafir), maka jika seandainya dia bertemu dengan segerombolan singa di tengah hutan belantara, niscaya singa-singa itu akan terdiam, sedikitpun tak akan bergerak karena merasakan rasa takut yang luar biasa kepadanya.”


Betapa dahsyatnya wibawa Rasulullah yang mengalir kepada siapapun orang yang mau menolong dalam perjuangannya.


Namun Imam Al-Bajuri menyebutkan dalam syarah kitab Burdah Al-Bushiri miliknya:

Sesungguhnya tidak bisa disebut sebagai orang yang menolong Rasulullah kecuali dengan mengikuti sunnah-sunnahnya dan meninggalkan sesuatu yang tidak sesuai dengan syari’atnya; yakni dengan bertaqwa kepada Allah Swt. Adapun pendorong manusia untuk bisa bertaqwa adalah adanya rasa takut kepada Allah Swt. dan barang siapa takut kepada Allah, maka setiap sesuatu akan takut kepadanya. sampai singa-singa yang ada ditengah hutan belantara juga akan takut kepadanya. Maka barang siapa telah sampai pada derajat ini, maka hati musuh-musuh seketika akan kosong disebabkan rasa takut ketika berjupa dengannya, dan juga dia akan selamat dari musuh-musuhnya.

Semoga kita semua selalu diberikan taufiq dan hidayah oleh Allah, sehingga bisa selalu menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya amin.


Zainal Abidin Jailani

Jum’at 23 september 2022

Darb el-Ahmar Cairo

Oktober 01, 2022

,


 

Sholawat bisa mengantarkan kita ke surga? emang benar ya berkah dari sholawat sedahsyat itu?. Nah mari kita bahas bersama kedahsyatan dari sholawat sendiri yang mungkin sudah sering kita lupain, atau mungkin ada beberapa dari kita yang pura-pura lupa.

Sholawat sendiri merupakan pujian kita kepada Nabi Saw, bentuk hormat kita kepada Nabi Muhammad Saw. selaku utusan dan mahluk yang paling dicintai Allah Swt.

Teman-teman tau gak sih ? Sholawat bukan sekedar ibadah sepele yang dengan mudahnya kita meninggalkan sholawat sembari berdalih "banyak amal ibadah lain yang lebih sempurna dari pada sholawat".

Sholawat merupakan amal ibadah yang paling mudah, namun bukan berarti sholawat adalah ibadah yang murah, jika kita kaji kembali sebenarnya sholawat merupakan amal ibadah yang paling mudah mengantarkan kita ke jannah, mengapa demikian? Sholat kita belum tentu diterima Allah, taubat kita masih perlu dipertanyakan maqbul tidaknya, puasa kita masih teramang-amang, namun sholawat satu-satunya ibadah yang pasti diterima Allah Swt. kenapa? Karena sholawat itu ada Nabi Muhammad Saw, serta merupakan doa kepada Allah Swt, untuk Nabi Muhammad Saw.

Sebagaimana perkataan Syekh Yusuf bin Ismail An-Nabhani: "adimi sholata ala nabiyyi Muhammadin, faqobuluha hatmun biduni taroddudi".

Sudah terbukti bukan bahwa dengan bersholawat kita bisa melakukan amal ibadah secara praktis, tanpa harus meluangkan banyak energi, meluangkan uang dan dahsyatnya lagi kemaqbulannya sudah pasti. Namun, masih banyak dari teman teman yang sudah mengetahui the power of sholawat tapi tetap saja jarang bersholawat, bukan karena mereka tidak ingin melakukannya atau tidak memiliki waktu luang untuk bersholawat. Pada nyatanya semua pemikiran tersebut tercipta karena kurang kemauan untuk bersholawat.

Ibaratnya nih ya, kita diundang mengikuti kajian pada jam 14.00, di pihak lain kita juga diharap untuk berpartisipasi melakukan pertandingan futsal pada jam yang sama, saat inilah adalah penentu, apakah kita lebih memprioritaskan kajian atau futsal ? Kalau kita benar-benar memprioritaskan kajian pasti kita akan bersedia untuk menolak pertandingan futsal yang diadakan pada waktu yang sama.

Begitu pula ketika kita tengah beraktifitas, jika kita benar-benar memiliki minat yang besar untuk bersholawat pasti kita sempat untuk melakukannya, lagi pula sholawat bukan sebuah aktifitas yang berat, sehingga kita harus meninggalkan aktifitas yang lain untuk bersholawat. Bisa saja kita tengah bermain bola sambil bersholawat, memasak sembari dua tiga kali melantunkan sholawat atau bahkan menulis sambil bersholawat. Semua tergantung bagaimana cara kita memprioritaskan sholawat.

Dengan demikian kita mampu membiasakan diri untuk terus beribadah. namun, ternyata permasalahannya tidak cukup sampai di situ, karna tugas kita bukan sekedar bersholawat sekali dua kali dalam setahun, tugas kita sebenarnya yaitu membiasakan diri untuk terus bersholawat (Istiqomah).

Agar bisa Istiqomah dalam menjalaninya tentu saja banyak jalan yang harus kita lewati, cara sederhananya dimulai dari me-mu-lai, jika langkah pertama sudah terpenuhi maka langkah kedua yaitu membiasakan, pasti banyak rintangan tersendiri yang akan kita hadapi, seperti rasa malas, bosan dan banyak kegiatan lain yang membuat kita berhenti bersholawat.

Jika kita sudah mampu membiasakan diri bersholawat maka lanjutkan agar sholawat yang sudah kita lantunkan setiap harinya, bisa menjadi sebuah hobi yang nantinya berkarakter di dalam diri kita. Sama halnya ketika kita sudah terbiasa makan tiga kali sehari maka ganjal rasanya ketika kita hanya makan dua kali sehari, hal itu bisa terjadi karna kebiasaan yang kita jalani mulai tertanam di dalam diri dan menjadi sebuah karakter.

Secara sederhana, Allah dan malaikat saja bersholawat kepada baginda Nabi Muhammad Saw, bagaimana dengan kita ? Yang hanya sekedar mahluk lemah dan penuh salah sebagaimana tertulis di dalam surah Al-Ahzab 56 : "Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya". 

Teman-teman, indah bukan ketika kita mampu bersholawat setiap saat, apalagi jika kita mampu melafalkannya sebanyak 1000 kali perhari, pasti hati dan jiwa kita terasa tentram.


Oleh: Khatibul Khairi al-Azizi

 02 Mei 2022

September 26, 2022

,

 



Refrensi: Kitab Ta’arrof ‘ala Habibikal Musthofa Saw. Hal. 51-53. Karya Syekh Mutawalli Asy-Sya’rowi

Penerjemah: Zainal Abidin Jailani

Darbul Ahmar, Cairo, 11 Juli 2022 M.

Dan ketika ada orang mengatakan: Bahwasannya pengetahuan Nabi itu merupakan kejeniusan yang boleh jadi tampak pada seorang hamba dari beberapa hamba Allah, kendatipun dia tidak pernah belajar dan membaca.

Maka saya jawab: Kejeniusan yang macam apa ini ? yang mana kejeniusan ini tampak tiba-tiba pada saat umur empat puluh tahun. Sedangkan kejeniusan dan keistimewaan itu biasanya tampak pada usia muda dan tidak menunggu sampai semacam umur empat puluh tahun ini. Maka ketika di katakan: boleh jadi kejeniusan dan keistimewaan itu tampak pada usia muda, namun kemudian disimpan oleh Rasulullah sampai umur beliau mencapai empat puluh tahun. Maka saya jawab: Siapa yang memberi tahu Nabi Muhammad Saw. bahwasannya dia akan hidup sampai umur empat puluh tahun ? Sedangkan dia melihat ayahnya telah meninggal sebelum dia dilahirkan, dan ibunya meninggal ketika dia masih kanak-kanak, kemudian dia tumbuh besar dalam keadaan yatim piatu. Maka setiap peluang hidupnya, bahwasannya kematian itu bisa merenggut manusia pada saat usia muda, sebagaimana telah merenggut ayah dan ibunya. Maka apakah Nabi itu menyimpan kejeniusannya hingga sampai umur empat puluh tahun ? Andai kata bahwa ayah dan ibu Nabi itu merupakan manusia yang paling membela dan besar pengaruhnya dalam hidup Nabi, maka niscaya mereka akan tetap hidup sampai umur enam puluh atau empat puluh tahun. Maka pastinya saya akan menjawab bahwasannya hal itu merupakan peluang Nabi bisa hidup sebagaimana kedua orang tuanya hidup. Namun kematian dini ini selamanya tidak menghilangkan rasa percaya diri Nabi bahwasannya dia akan bisa hidup mencapai umur empat puluh tahun.

Dan begitu juga sifat ummi ini menjadi kemuliaan bagi Rasulullah Saw. dan menjadi keharusan untuk menolak pengakuan orang-orang yang berkata bathil, dan juga menjadi sesuatu yang meyakinkan hati orang-orang yang beriman. karena sesungguhnya setiap sesuatu yang dibawa oleh Rasulullah itu tiada lain  adalah wahyu yang turun dari Allah Swt.

Dan sifat Iradat Allah telah menghendaki Nabi Muhammad untuk tumbuh besar dalam keadaan yatim, Sehingga tidak bisa dikatakan bahwasannya dia mempergunakan kekuasaan ayahnya, atau bersandar pada kekuasaan selain kekuasaan Allah. Dan dia juga merupakan seorang bayi, dan ibunya akan menyusukannya kepada orang yang mengambil jasa menyusui, sehingga dia tumbuh di sebuah desa di pedalaman sebagai anak yang kuat. dan akan datang sekelompok perempuan dari desa pedalaman untuk memilih bayi yang akan mereka susui, dan mereka akan memilih bayi yang masih memiliki ayah, sekiranya bisa memberikan suatu pemberian sebagai upah bagi mereka. 

Saya temui bahwasannya tidak ada satupun dari orang perempuan kecuali Rasulullah diajukan kepadanya untuk disusui. kemudian ketika diucapakan kepadanya bahwasannya Nabi adalah anak yang telah yatim, maka mereka menolak untuk mengabilnya. karena sesungguhnya setiap satu persatu dari mereka menginginkan harta dari ayah bayi yang mereka susui. Maka ketika dia tahu bahwasannya Nabi adalah bayi yang telah yatim, maka dia langsung berpaling dari Nabi. Kecuali hanya satu wanita saja, yaitu Halimah As-Sa’diyah yang mana dia termasuk sebagian dari kelompok wanita yang menjadi juru menyusui, namun dia tidak menemukan bayi untuk dia susui. Dan ketika dia mengetahui bahwasannya dirinya adalah satu-satunya perempuan yang tidak berhasil untuk mendapatkan bayi untuk dia susui, Maka dia berkata: Demi Allah ! Sesungguhnya aku tidak suka jika diantara sahabat-sahabatku, hanya aku sendirilah yang kembali dengan tanpa membawa bayi untuk aku susui. Demi Allah ! Sungguh aku akan pergi ke anak yatim itu dan sungguh aku akan mengambilnya, semoga Allah mejadikan keberkahan bagiku sebab anak yatim itu. Dan Halimah berkata: Dan tidaklah mendorongku untuk mengambilnya kecuali dikarenakan tidak adanya bayi lain yang akan aku susui. 

Halimah mengambil bayi yang telah yatim, kemudian rumahnya menjadi penuh dengan berkah sebab hadirnya anak yatim tersebut, dan hewan ternaknya pun menemukan rerumputan, kemudian memakannya dan menjadi besar dan gemuk. Sedangkan hewan ternak orang lain semuanya tidak ada yang menemukan rerumputan sama sekali di bumi Bani Sa’ad yang gersang. Dan kambing-kambing Halimah ketika itu bisa menghasilkan susu yang berlimpah dari hasil perahannya, sedangkan kambing-kambing orang lain, setetes pun tidak menghasilkan susu dari perahannya. Sehingga semua orang pada zaman itu sama-sama berkata kepada pengembala suruhannya; Mengembalalah kalian di suatu tempat, yang mana kambing Halimah digembalakan di sana.

September 17, 2022

,

 



Refrensi: Kitab Ta’arrof ‘ala Habibikal Musthofa Saw. Hal. 51-53. Karya Syekh Mutawalli Asy-Sya’rowi

Penerjemah: Zainal Abidin Jailani

Darbul Ahmar, Cairo, 11 Juli 2022 M.


Karena apa Allah Swt. memilih Nabi Muhammad Saw. sebagai Nabi-Nya ? Padahal dia adalah orang yang ummi.

Imam Asy-Sya’rowi Ra. berkata:

Sebelum menurunkan wahyu kepada Rasulullah Saw., Allah Swt. menjauhkan setiap sifat syubhat basyariyah (keserupaan dengan manusia) dari diri Rasulullah Saw. yakni semisal seperti contoh bahwasannya wahyu yang akan diterima oleh Nabi Muhammad Saw. kemungkinan adalah ilmu yang manusiawi, baik itu berupa budaya ummat-ummat yang terdahulu atau mungkin ilmu yang dibaca dari kitab-kitab dan sebagainya.

Oleh karena itu, Allah Swt. memilih Nabi-Nya (Nabi Muhammad Saw) yang ummi. Makna ummi sendiri adalah: keberadaannya yaitu sebagaimana dia dilahirkan oleh ibunya (tidak belajar ilmu dari manusia). Dan sifat Ummi ini merupakan kemuliaan bagi Rasulullah Saw. kenapa demikian? Alasannnya yaitu karena Allah Swt. yang mana telah memilihnya sebagai akhir dari para utusan-Nya ingin mengajarinya dengan dzat-Nya sendiri, dan Allah Swt. menginginkan agar Rasulullah Saw. tidaklah mempelajari ilmu melainkan ilmu samawi (ilmu dari Allah Swt.). Oleh karena itu Allah Swt. menjadikannya sebagai orang yang ummi, dan hal itu juga merupakan indahnya pengaturan Allah Swt dalam mengutus Nabi Muhammad Saw.

Maka jika seandainya Rasulullah Saw itu bisa membaca dan menulis, maka orang-orang kafir pada masa itu pasti akan berkata bahwasannya Nabi mengambil ilmu (wahyu) dari apa yang telah dia baca, atau mengambil ilmu dari kitab-kitab orang terdahulu atau dari budaya-budaya ummat pada masa itu. Oleh karena itu, Allah Swt. menjadikannya tumbuh besar sebagai orang yang ummi, sehingga semua orang akan tau bahwasannya semua ilmu yang dimiliki oleh Rasulullah Saw. adalah ilmu yang datang dari langit. Hanya saja pemilihan Allah Swt. beserta hikmah yang terkandung di dalamnya ini telah dilupakan oleh orang-orang kafir, dan mereka mengakui bahwasannya Rasulullah Saw. itu diajari oleh sesama manusia. dan juga mereka mengakui bahwasannya Rasulullah mendapat ilmu tersebut dari mitos yang dibuat oleh orang-orang terdahulu.

Maka Allah Swt menolak pengakuan (perkataan) mereka, dan menyebutkan mukjizat keummian yang dimiliki oleh Rasulullah Saw melalui firman-Nya. Allah Swt berfirman:

وَمَا كُنْتَ تَتْلُوْ مِنْ قَبْلِهِ مِنْ كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِيْنِكَ إِذًا لَّارْتَابَ الْمُبْطِلُوْنَ

Artinya: Dan engkau (Muhammad) tidak pernah membaca suatu kitab sebelum (Al-Qur’an) dan engkau tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu; Sekiranya (engkau pernah membaca dan menulis), niscaya ragu orang-orang yang mengingkarinya. (QS. Al ‘Ankabut: Ayat 48)

Jadi Allah Swt. memalingkan semua sifat basyariyah dari Nabi Muhammad, sehingga Allah Swt menjadikannya sebagai orang yang ummi, sehingga dengannya Allah menolak atas pengakuan orang-orang yang berkata bathil dan yang memusuhi keimanan, yang mana mereka  berkata bahwasannya Rasulullah Saw mendapatkan Al-Qur’an dari hasil belajarnya sendiri. Oleh karena itu Allah Swt berkata pada Rasulullah: Jika seandainya engkau pernah membaca atau menulis sebelum datangnya nubuwah kepadamu, maka itu bisa menjadi hujah (dalil) bagi mereka orang-orang yang berkata bathil untuk mengatakan bahwasannya Al-Qur’an ini adalah sesuatu yang dihasilkan oleh dirimu sendiri. Tapi kenyataannya engkau tidak pernah membaca dan menulis, dan engkau tidak pernah membaca dan menulis satu kalimat pun dalam hidupmu sebelum datangnya Risalah. Jadi hujah-hujah yang mereka lontarkan, itu semuanya bathil dan tidak ada sanadnya, baik secara hak atau hakikat. Bahkan tak lain itu hanyalah bentuk penentangan karena ketidakimanan mereka, dan juga sebagai hujah bagi kekufuran mereka. Adapun hujah mereka itu di tolak. Dan dalam hal itu Allah berfirman kepada Nabi-Nya untuk menolak pengakuan-pengakuan mereka (orang orang ahli bathil):

قُلْ لَّوْ شَاءَ اللهُ مَا تَلَوْتُهُ عَلَيْكُمْ وَلَا أَدْرَىكُمْ بِهِ فَقَدْ لَبِثْتُ فِيْكُمْ عُمْرًا مِّنْ قَبْلِهِ أَفَلَا تَعْقِلُوْنَ

Artinya: Katakanlah (Muhammad), “Jika Allah menghendaki, niscaya aku tidak membacakannya kepadamu dan Allah tidak (pula) memberitahukannya kepadamu”. Aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya (sebelum turun Al-Qur’an). Apakah kamu tidak mengerti? (QS.Yunus: Ayat 16).

Dan begitu juga Allah juga menuntut kepada Rasulullah untuk menolak pengakuan mereka dan berkata; Bahwasannya dia telah hidup bersama mereka selama 40 tahun (yakni waktu yang lama), dan tidak pernah berkata kepada mereka bahwasannya dia telah diberi wahyu. Jika seandainya mereka mau berfikir dengan akal mereka tentang seberapa lama masa Rasulullah hidup bersama mereka sebelum diberi wahyu, dan mereka tidak mengaku-ngaku perkataan bathil apapun, maka hal itu sudah cukup bagi mereka untuk bisa membenarkan Rasulullah Saw.

Follow Us @soratemplates